Kamis, 01 Desember 2011

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Penjara 6 tahun karena jual anak sendiri 25 dolar

Posted: 01 Dec 2011 07:27 PM PST

Ilustrasi telinga Bayi (beginnerbaby.com)

Berita Terkait

Los Angeles (ANTARA News) - Seorang pria AS berusia 39 tahun dijebloskan ke dalam penjara selama enam tahun karena ia dinyatakan terbukti bersalah berusaha menjual bayi perempuannya yang berusia delapan bulan dengan harga 25 dolar AS di luar satu toko Walmart di California, demikian laporan yang beredar Kamis (1/12).

Patrick Fousek, yang saat menjual bayinya sedang di bawah pengaruh Narkoba,  dijatuhi hukuman pada Rabu (30/11) seperti diberitakan surat kabar Salinas Californian.

Fousek dan ibu bayi perempuan tersebut, Samantha Tomasini, ditangkap pada Juni 2010, ketika dua perempuan melaporkan pasangan itu berusaha menjual putri mereka di luar satu toko Walmart di Salinas, sebelah selatan San Francisco.

"Saya amat, sangat menyesal --saya berharap saya tak menghadapi masalah ini," kata Fousek di pengadilan, demikian laporan surat kabar tersebut, sebagaimana dikutip AFP.

Hakim Monterey County Pamela Butler menjatuhkan dia hukuman maksimal yaitu enam tahun penjara karena membahayakan nyawa seorang anak kecil. Bayi tersebut  kini diadopsi keluarga lain.

Ini bukan pertama kalinya Fousek berurusan dengan pengadilan gara-gara tak becus mengurus anak.

Pada 2006, putranya yang saat itu berusia tiga tahun diambil alih negara karena rumah Fousek didapati berisi barang-barang yang bisa digunakan membuat methamphetamine, kata surat kabar tersebut.

"Ia kehilangan anaknya tapi masih tak mau mengambil pelajaran," kata Mazariegos sebagaimana dilaporkan harian itu.

Ibu bayi tersebut, Tomasini,  diganjar hukuman percobaan selama empat tahun serta diperintahkan menjalani program rawat-inap untuk mengobati kecanduan obat-obatan.
(C003)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Libya akan integrasikan 50.000 gerilyawan anti-Gaddafi ke militer

Posted: 01 Dec 2011 04:53 PM PST

Pejuang anti Gaddafi menenmbalkan seluncur roket ganda dekat Sirte, benteng pertahanan terakhir Gaddafi, 24 September 2011. (FOTO ANTARA/REUTERS/Goran Tomasevic/djo/11)

Berita Terkait

Video

Tripoli (ANTARA News) - Pasukan keamanan Libya akan mengintegrasikan 50.000 gerilyawan yang memerangi pasukan yang setia pada mantan pemimpin Libya Muamar Gaddafi ke dalam pasukan keamanan, kata menteri dalam negeri sementara negara itu, Kamis.

Fawzi Abdelali mengatakan semua brigade tempur yang berperang di garis depan akan masuk jajaran pasukan keamanan kementerian pertahanan dan kementeruan dalam negeri, lapor AFP.

Ia mengatakan sebuah "komisi petempur" telah dibentuk oleh Dewan Transisi Nasional (NTC) untuk melakukan pengintegrasian para bekas pemberontak itu ke dalam pasukan keamanan.

Abdelali, yang berbicara pada acara untuk menandai selesainya pelatihan satu kelompok bekas pemberontak oleh polisi Prancis, tidak memberikan kerangka waktu bagi pengintegrasian itu.

Menteri itu mengatakan rencana pengintegrasian tersebut akan diumumkan secara resmi pekan dekan, dan menambahkan negara Afrika utara itu merencanakan untuk merehabilitasi 200.000 petempur dalam jangka waktu lama.

Puluhan ribu warga sipil Libya telah mengangkat senjata ketika pemberontakan anti-Gaddafi meletus pada Februari lalu.

Mereka merebut kota demi kota dalam periode delapan bulan sebelum pada akhirnya menggulingkan rezimnya yang sudah berusia 42 tahun. Gaddafi sendiri ditangkap dan dibunuh pada 20 Oktober.

Abdelali menjanjikan "perubahan kualitatif" dalam situasi keamanan pada tiga bulan ke depan, mengatakan pasukan keamanan sekarang ini tidak tampak tegap di jalanan.

Ia juga mengatakan bahwa kementerian dalam negeri akan segera menguasai tanah perbatasan, bandara dan pelabuhan.

"Penguasaan tanah perlintasan perbatasan, laut dan udara merupakan faktor penting yang memberikan gagasan pada setiap orang mengenai eksistensi otoritas suatu negara," katanya.

"Dari pekan depan kami akan mulai mengambil kendali pos-pos perbatasan (dengan Tunisia) di barat dan secara berangsung-angsur pindah ke bandara."

Pada Rabu, pemerintah Tunisia telah menutup sebuah pos perbatasan setelah insiden yang tak ditentukan yang melibatkan warga Libya dan sejumlah pejabat pajak Tunisia.

Bandara internasional Tripoli, sementara itu, dikuasai oleh sebuah kelompok brigade Zintan. (S008/C003)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar